
Happy New Year 2012
Semoga tahun ini, segala yang direncanakan dan dicita-citakan bisa terwujud







GANBAREBA DEKIRU !



Sekali lagi, terima kasih ya 
ka bahwa hal terburuk di kelas IPA adalah memeriksa pertumbuhan contoh jamur yang kami buat dari kacang, roti, pisang dan makanan "berambut" lainnya. Aduh, baunya! Begitulah yang kusangka, sampai aku menghadapi ulangan IPA di akhir semester. Ayahku tahu betapa pentingnya aku mendapat nilai bagus untuk ulangan IPA. Jadi, dia membantuku belajar, dan pada hari ujian dia membuatkan aku sarapan. Lalu, dia membriku salah satu pidatonya yang berjudul "kau pasti bisa"Hari ini saya belajar banyak dari seorang supir angkot. Dari seseorang yang biasanya dipandang orang dengan sebelah mata, tapi tersimpan hal yang sangat mulia.
. Saya ingat jelas perkataannya "tahun 2002 saya menemukan Tuhan, saya tidak bisa lari lagi dari Dia. Tuhan merubah hidup saya".
Dengan rasa takjub, saya dengarkan pembicaraannya hingga saat terpaku pada tulisan di tempat menyimpan uang di sebelah setir, "Mohon untuk tidak merokok" dan di dekat tulisan itu saya temukan banyak permen. "Ini apa?" tanya saya dengan polosnya. Dengan tersenyum dia bilang, "Saya sudah berhenti merokok dan saya ingin jadi saksi hidup & berbagi dengan orang lain supaya tidak merokok. Lebih baik makan permen aja sebagai ganti rokok".
Saya berpikir, dia hidup tidak berkelimpahan, tapi mau berkorban untuk menjadi kesaksian hidup. Masalahnya bukan berapa harga permen yang dia letakkan di sana, tapi pengorbanan dan usaha menjadi kesaksian hidup untuk orang lain dengan cara yang dia mampu. 

“Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”
(Lukas 16:10, Matius 25:21)
Kepada seluruh anak Kelas 8 SMP Talenta 

Saat sudah putus asa, di toko buku terakhir saya menemukan buku seperti Chicken Soup dengan judul Taste berries for Teens. Akhirnya, dibelilah buku tersebut. Salah satu cerita yang sangat menginspirasi adalah berikut :
Waktu akududuk di kelas 1 SMP, sangat penting bagiku untuk mendapat nilai bagus - untuk menyenangkan hati ayahku. Setiap kali menerima rapor yang terus kubawa pulang, aku duduk dengan tidak sabar menunggu senyumannya dan pujiannya karena aku mendapat nilai bagus. Biasanya nilaiku A dan B. Lalu, pada suatu semester aku mendapat nilai D, jadi aku berkata kepada Ayahku, "Aku tak percaya guruku memberi nilai D."
"Tidak," Ayahku membenarkan. "Gurumu tidak memberimu nilai D. kau yang meraih nilai D. Gurumu juga tidak memberimu tiga nilai A dan satu nilai B. kau meraihnya, seperti kau meraih nilai D. Jika kau perlu bantuan dalam suatu mata pelajaran susah bagimu, Ayah mau melakukan apa yang Ayah bisa untukmu. tetapi, pada akhirnya, Ayah ingin kau belajar dan menetapkan standar nilai yang kauinginkan itu sebagai sesuatu yang kau raih untuk dirimu sendiri - bukan untuk ayah."
Aku rasa Ayahku mengatakan 2 hal yang baik. pertama, dia benar; guruku tidak memberiku nilai, aku yang meraih nilai. kedua, aku semestinya meraih nilai itu untuk diriku, bukan untuk ayahku. Aku belajar memikul tanggung jawab atas nilai-nilai yang "kuraih" dan memandangnya sebagai sesuatu yang kuinginkan untuk diriku. Aku masih tetap ingin menyenangkan hati Ayahku - rasanya hal itu tidak akan berubah selamanya. akan tetapi, akulah orang yang menetapkan standar untuk hal - hal yang kuinginkan untuk diriku. Akulah orang yang harus kubuat senang, setidaknya akulah orang pertama yang harus merasa senang.
Dan Ayahlah yang mengajariku begitu. Ini menunjukkan bahwa dia mempercayaiku untuk menetapkan standar untuk diriku sendiri. Menurutku, itulah integritas: mempercayai diri sendiri untuk jujur. Lagipula, kalau kita bisa jujur kepada diri sendiri, dengan sendirinya kita akan bisa jujur kepada orang lain.Jason Samuel, 16 Tahun (Taste Berries for Teens)

Arggghhhhh... Inilah kata-kata yang sering kita dengar kalau kata "UJIAN" terucap. Minggu ini murid - murid di sekolah saya mengajar akan menghadapi UTS. Terlihat ekspresi yang stres ketika, jadwal pelajaran dibagikan. Pertanyaannya, kenapa mereka harus seperti itu? berdasarkan hasil investigasi *cie..cie*
alasannya adalah KETIDAKSIAPAN.
mengetahui hal tersebut, maka sebagai guru & wali kelas saya mengambil inisiatif supaya murid - murid lebih siap. 